Analisa kimia dan identifikasi mutu batu kapur gunung kidul berdasarkan syarat mutu batu kapur untuk pembuatan keramik halus (S11.1279-85)

M. Dachyar, Effendi (2004) Analisa kimia dan identifikasi mutu batu kapur gunung kidul berdasarkan syarat mutu batu kapur untuk pembuatan keramik halus (S11.1279-85). Technical Report. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta. (Unpublished)

[thumbnail of Monograph_MDachyarEffendi_2004_1.pdf] Text
Monograph_MDachyarEffendi_2004_1.pdf - Other
Restricted to Registered users only

Download (1MB)

Abstract

Fungsi kapur dalam badan keramik salah satunya adalah sebagai sebagai pefebur yang mengikat bahan pengisi ateu rangka pada temperatur tinggi sehingga membentuk barang-barang keramik. Dari fungsi tersebut, kegunaan mineral ini cukup penting untuk pembuatan keramik halus dan patut diusahakan pengadaannya sebagai bahan mentah keramik halus.
Dengan membendingkan komposisi kimia batu kapur Gunung Kidul dengan persyaratan mutu kapur untuk pembuatan keramik halus tersebut, dapat dilihat bahwa Batu Kapur Gunung Kidul memiliki kadar CaO sebesar 44,80%, dibawah kandungan minimum CaO yang ditetapkan. Seperti diketahui, Kalsium dalam batu kapur memegang peranan penting dalam pembentukan badan keramik seperti telah diuraikan dimuka. Kekurangan kadar kalsium dalam batu kapur tentu mempengaruhi kualites keramik yang dihasilkan. Sekurangnya fungsi kapur sebagai pelebur di dalam keramik stoneware/gerabah padat dan glasir yang diharapkan bereaksi dengan alumina dan silika membuat gelas untuk meningkatkan sifat daya tembus badan keramik, kurang tercapai. Dapat dikatakan disini bahwa kandungan CaO dalam batu kapur adalah syarat utama yang harus dipenuhi sebagai bahan mentah keramik halus.
Dengan membandingkan komposisi kimia batu kapur Gunung Kidul dengan persyaratan mutu kapur untuk pembuatan keramik halus tersebut, dapat dilihat bahwa Batu Kapur Gunung Kidul memiliki kadar CaO sebesar 54,17%, diatas kandungan minimum CaO yang ditetapkan. Seperti diketahui, Kalsium dalam batu kapur memegang peranan penting dalam pembentukan badan keramik seperti telah diuraikan dimuka. Kekurangan kadar kalsium dalam batu kapur tentu mempengaruhi kualitas keramik yang dihasilkan. Sekurangnya fungsi kapur sebagai pelebur di dalam keramik stoneware/gerabah padat dan glasir yang diharapkan bereaksi dengan alumina dan silika membuat gelas untuk meningkatkan sifat daya tembus badan keramik, kurang tercapai. Dapat dikatakan disini bahwa kandungan CaO dalam batu kapur adalah syarat utama yang harus dipenuhi sebagai bahan mentah keramik halus.
FezO dalam campuran badan keramik dapat mempengaruhi perubahan warna, menurunkan sifat tahan api lempung, senyawa besi yang larut dalam air akan membentuk buih pada permukaan benda, dan dapat membentuk iron spot pada permukaan benda setelah dibakar. Oleh karena itu jumlah senyawa besi harus dibatasi Pada SlI 1279-85, kandungan FezO dibatasi maksimum sebesar 0,30%. Kandungan FesO pada batu kapur Gunung Kidul ini berada dibawah ambang batas yang dipersyaratkan sebesar 0,07%.
Sedangkan SO, tidak terdeteksi. Melihat perbandingan yang demikian, secara keseluruhan, batu kapur yang diambil dari Gunung Kidul ini memenuhi persyaratan sebagai bahan mentah keramik halus menurut standar SII. 1279-85.

Item Type: Monograph (Technical Report)
Subjects: Materials Sciences > Ceramics, Refractories, & Glass
Divisions: OR_Nanoteknologi_dan_Material > Material_Maju
Depositing User: Rasty -
Date Deposited: 10 Jun 2026 03:32
Last Modified: 10 Jun 2026 03:32
URI: https://karya.brin.go.id/id/eprint/36886

Actions (login required)

View Item
View Item