Adiarso, Adiarso and Bambang, Marwoto and Irvan, Faizal and Ismariny, Ismariny (2018) Outlook teknologi kesehatan 2018: inisiatif pengembangan teknologi dan industri biofarmasi. Pusat Pengkajian Industri Proses dan Energi - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta. ISBN 9786021328071
9786021328071_Adiarso_2018.pdf - Published Version
Download (51MB) | Preview
Abstract
Perbangunan kesehatan merupakan pilar utama pembangunan nasional untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Melalui pembangunan kesehatan dapat diwujudkan masyarakat Indonesia yang sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial sehingga memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
Seiring dengan perkembangan jumlah penduduk dan meningkatnya kualitas kesehatan, pola penyakit juga mengalami pergeseran. Indonesia saat ini tengah menghadapi transisi epidemiologi dalam masalah kesehatan, di satu sisi penyakit menular belum seluruhnya dapat teratasi, sementara di sisi lain tren penyakit tidak menular (PTM) cenderung terus meningkat.
Keadaan ini menimbulkan beban ganda penyakit (double burden of disease) bagi masyarakat.
Di bidang pengobatan, produk biofarmasi diproyeksikan akan terus berkembang mengikuti perkembangan penduduk dan kualitas kesehatan. Penjualan obat-obatan yang diproduksi dengan bioteknologi di pasar global pada tahun 2017 telah mencapai USD 208 milyar (25% dari total). Penjualan tersebut diproveksikan akan terus meningkat menjadi USD 383 milyar pada tahun 2024, atau sekitar 31% penjualan pasar obat dunia. Tercatat 70% inovasi obat baru merupakan produk blofarmasi.
Produk biofarmasi atau disebut juga produk biologi adalah sedian obat yang diformulasikan dari bahan aktif yang, diprodruksi oleh sel hidup (bakteri, yeast,, kultur sel, tanaman, hewan) atau bagian dari sistem biologi. Produk ini dapat berupa produk bioteknologi (protein rekombinan, antibodi monoklonal, sel punca), produk hasil ekstraksi/ fraksinasi (produk darah, produk urin, ekstraksi organ) dan vaksin. Diperkirakan pada masa yang akan datang teknologi yang akan berkembang untuk memproduksi produk biofarmasi adalah teknologi antibodi monoklonal, teknologi protein dan DNA rekombinan, teknologi sel punca, serta teknologi terapi gen.
Industri biofarmasi memilild karakteristik yang membutuhkan dana besar (capital
Intensive), teknologi tinggi (technology intensive), sumber daya manusia yang terlatih (skill labor), serta harus mengikuti berbagai regulasi yang ketat (highly regulated). Di samping Itu proses memunculkan satu produk blofarmasi baru, mulal dari kegiatan riset dasar hingga masuk ke peredaran pasar membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar 20-25 tahun.
Dalam pengembangan produk blofarmasi yang memerlukan waktu yang panjang, dapat diraih capaian produk dalam jangka pendek. Capalan jangka pendek tersebut merupakan mata rantai yang tidak bisa diabaikan untuk meraih capaian jangka panjang. Oleh karena itu, selain penguasaan teknologi jangka panjang, capaian jangka pendek juga perlu mendapatkan perhatian yang besar. Capaian jangka pendek tersebut meliputi reverse engineering untuk menghasilkan produk biosimilar, adjuvan untuk formulasi produk biologi, recombinant microbes, teknologi sel punca untuk terapi dan rehabilitasi dan kit diagnostik untuk deteksi penyakit dan infeksi.
Dalam upaya memperkuat pengembangan produk biofarmasi nasional dari hulu sampai hilir, perlu menumbuhkan keberadaan CRO (Contract Research Organization) lokal yang memiliki kemampuan untuk terlibat pada selurun tahapan kegiatan R&D. CRO harus memiliki pengetahuan yang luas tentang peraturan dan pedoman, hubungan yang küat dengan peneliti dan dokter, jaringan yang didirikan dengan pusat penelitian klinis lokal, dan didukung oleh sumber daya yang
memadai (termasuk tenaga kerja don keuangan).
Teknologi produksi biofarmasi yang dikembangkan didorogg untuk berbasis, pada kandungan lokal indonesia.dengan memanfaatkan isolat lokal mikroorganisme (seperti: virus serotype khas Indonesia) dan media bahan baku lokal yang ketersediaannya di dalam negeri
melimpah yang akan memberikan peluang usaha baru pendulung industri. Peluang pasar spesifik seperti persyaratan halal perlu menjadi pertimbangan dalam pengembangan teknologi
biotarmasi.
Rekomendasi lain yang ‹ disampaikan dalam buku ini, bagi pengembangan produk biofarmasi khususnya vaksin, blosimilar dan sel punca, antara lain adalah standarisasi sarana dan prasarana riset sesuai ketentuan internasional, sinergi dan komitmen ABGC (academic, business, government, community), rood map R&D yang lebih rinci dalam Rencana Induk Riset Nasional (RIRN), pertimbangan potensi pasar dalam dan luar negeri, kontinyuitas pendanaan riset, dan kemitraan industri dalam negeri dengan perusahaan multi nasional (PMN) dengan
mempertimbangkan aspek alin teknologi.
| Item Type: | Book |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Health technology |
| Subjects: | Medicine & Biology > Industrial Medicine |
| Divisions: | OR Kesehatan |
| Depositing User: | Rasty - |
| Date Deposited: | 10 Jun 2026 02:23 |
| Last Modified: | 10 Jun 2026 02:23 |
| URI: | https://karya.brin.go.id/id/eprint/47264 |


